Pajak Kripto di Indonesia: Update Terbaru 2025

https://sst8.com/ Pajak Kripto di Indonesia: Update Terbaru 2025 , Kripto itu sekarang udah kayak “anak gaul baru” di dunia finansial. Dulu dianggap cuma mainan geek sama trader iseng, sekarang malah jadi instrumen investasi serius, bahkan mulai dilirik institusi gede. Tapi ya… begitu makin rame, makin banyak duit yang muter, ujung-ujungnya negara juga gak mau ketinggalan: pajak kripto masuk gelanggang.

Nah, di artikel ini kita bakal bahas update pajak kripto terbaru 2025 di Indonesia. Mulai dari aturan yang udah jalan sejak 2022, apa aja yang berubah di 2025, gimana cara lapornya, sampai simulasi case study biar makin kebayang.


1. Flashback: Pajak Kripto Mulai Dikenakan (2022)

Balik dulu sebentar ke tahun 2022. Waktu itu pemerintah Indonesia resmi ngenain pajak buat transaksi aset kripto. Skemanya:

  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai) → 0,11% per transaksi jual/beli aset kripto.
  • PPh Final (Pajak Penghasilan) → 0,1% dari nilai transaksi kalau lewat exchanger resmi (BI/Kominfo/OJK/Bappebti approved).
  • Kalau lewat exchanger ilegal? PPh-nya lebih tinggi: 0,2%.

Tujuannya? Jelas:

  1. Negara gak mau kehilangan potensi pajak dari transaksi kripto yang makin gede volumenya.
  2. Membereskan ekosistem digital biar lebih transparan.

2. Update 2025: Apa yang Berubah?

Nah, di 2025 ini ada beberapa hal baru yang lumayan “ngegas”:

🔹 a. Pajak Tambahan buat Mining & Staking

  • Kalau sebelumnya cuma transaksi (jual/beli), sekarang aktivitas mining & staking juga kena pajak.
  • Mining dianggap “jasa menghasilkan aset digital”, kena PPN + PPh final.
  • Staking dihitung kayak bunga/dividen → jadi objek PPh (tarifnya progresif, tergantung penghasilan).

🔹 b. Laporan Khusus di SPT Tahunan

  • DJP bikin form baru khusus aset kripto di e-SPT 2025.
  • Jadi selain lapor harta, kita juga wajib detailin:
    • jenis aset (BTC, ETH, SOL, dll.),
    • jumlah unit,
    • exchanger penyimpanan,
    • nilai kurs di akhir tahun.

🔹 c. Integrasi Data dengan Exchanger

  • Mulai 2025, exchanger kripto di Indonesia wajib lapor transaksi user ke DJP (mirip kayak bank lapor saldo nasabah).
  • Jadi, “main kucing-kucingan” makin susah.

🔹 d. Insentif Pajak Buat Startup Web3 Lokal

  • Pemerintah kasih insentif buat project blockchain & Web3 lokal:
    • pembebasan PPN untuk transaksi token utilitas tertentu,
    • tarif PPh lebih ringan untuk startup yang masih rintisan.
  • Tapi catatan: harus daftar & comply ke Bappebti dulu.

3. Simulasi Case Study Pajak Kripto

Biar gak cuma teori, yuk kita coba simulasi kasus nyata.

📌 Case 1: YouTuber Desain Grafis + Investasi Kripto

  • Budi, 27 tahun, punya channel YouTube desain grafis. Dari AdSense, dia dapat Rp 120 juta/tahun.
  • Selain itu, dia juga trading ETH → total profit bersih setahun Rp 30 juta.

➡️ Pajak Budi di 2025:

  • AdSense = penghasilan kerja bebas → masuk tarif progresif PPh orang pribadi.
  • Profit ETH = kena PPh final 0,1% per transaksi + dicatat di SPT sebagai harta.
  • Kalau totalnya digabung, Budi bisa naik golongan tarif PPh progresif. Jadi dia harus jeli atur strategi (misalnya: biaya operasional channel YouTube bisa dikurangin biar taxable income lebih kecil).

📌 Case 2: Barista yang Juga Crypto Miner

  • Dini, 25 tahun, kerja sebagai barista. Gaji tetap Rp 60 juta/tahun.
  • Tapi dia juga mining altcoin (DOGE, LTC) → hasilnya kalau dikonversi ke rupiah setahun Rp 20 juta.

➡️ Pajak Dini di 2025:

  • Gaji barista → dipotong PPh 21 sama perusahaan.
  • Mining kripto → sekarang dihitung jasa kena pajak → PPN + PPh final.
  • Harus dilaporin juga di SPT tahunan (walau nilainya “kecil”).

baca juga


📌 Case 3: Selebgram Thrift Shop & NFT

  • Tika, 23 tahun, selebgram thrift shop.
  • Income: Rp 80 juta/tahun dari jualan baju + endorse IG.
  • Dia juga jual NFT art → dapet ETH senilai Rp 100 juta.

➡️ Pajak Tika di 2025:

  • Endorse & thrift shop → usaha UMKM → bisa pakai PPh Final 0,5% (kalau omzet < Rp 4,8 miliar/tahun).
  • NFT → dianggap kripto → kena PPN + PPh final tiap transaksi.
  • Karena nilainya besar, Tika wajib lapor detail NFT di SPT (jenis, exchanger, kurs akhir).

4. Tantangan Pajak Kripto di Indonesia

Meski udah makin rapi, ada beberapa masalah yang masih “PR”:

  1. Fluktuasi harga kripto → nilai bisa anjlok/naik gila-gilaan, bikin lapor pajak ribet.
  2. Kesadaran masyarakat → banyak yang masih nganggep kripto = “mainan”, padahal udah masuk radar pajak.
  3. Exchanger luar negeri → kalau orang Indonesia trading di Binance/OKX tanpa KYC lokal, DJP agak susah tracking.

5. Tips Biar Ngurus Pajak Kripto Gak Ribet

  1. Catat semua transaksi (bisa pake app portfolio tracker).
  2. Gunakan exchanger resmi Bappebti, biar pajak otomatis dipotong.
  3. Pisahin rekening/tabungan khusus untuk trading biar cashflow lebih rapi.
  4. Laporin di SPT, walau saldo kecil → lebih aman daripada “sembunyi”.
  5. Kalau punya NFT, staking, mining → konsultasiin ke konsultan pajak biar gak salah lapor.

6. Kesimpulan

Pajak kripto di 2025 udah gak bisa dihindari lagi. Pemerintah makin serius, aturan makin detail, dan integrasi data dengan exchanger bikin transparansi naik level.

Buat Gen Z & milenial yang aktif di dunia kripto, intinya:
👉 Bukan soal bayar pajaknya doang, tapi soal ngerti aturan & strategi biar tetap untung tanpa kena masalah hukum.

Kalau jago ngatur, kripto bisa tetap jadi sumber income gede plus gak bikin deg-degan tiap akhir Maret pas lapor SPT. 🚀

Oke bro, kita gaspol deep dive ya 🚀. Artikel lanjutan ini bakal fokus bahas Pajak Kripto di Indonesia (Update 2025) tapi dengan simulasi case study biar relatable banget. Jadi bukan sekadar teori pajak kripto, tapi real-life skenario: mulai dari trader harian, investor jangka panjang, sampai content creator yang digaji pake token.


Deep Dive: Pajak Kripto di Indonesia 2025 — Studi Kasus Nyata


🎬 Scene 1: Day Trader Kripto — “Bang Dimas si Scalper Binance”

Bayangin ada Dimas (27 tahun), kerja kantoran di startup, tapi side hustle-nya trading kripto tiap malam. Modal awal Rp50 juta, tiap hari main scalping di Binance Future (walau sebenernya “ilegal” karena BI belum kasih izin future trading 🙃).

Alur Pajak Dimas

  • 2024-2025 Update: Pajak atas transaksi aset kripto masih berlaku via PMK 68/2022.
    • Pajak PPh Final 0,1% dari nilai transaksi (jual/beli).
    • PPN 0,11% dari nilai transaksi.
  • Jadi walau Dimas rugi, tetap kena pajak transaksi.

💡 Simulasi Angka:

  • Modal awal: Rp50 juta
  • Transaksi total dalam setahun: Rp1 miliar (bolak-balik beli/jual)
  • Pajak yang terpotong:
    • PPh Final: 0,1% x Rp1 miliar = Rp1 juta
    • PPN: 0,11% x Rp1 miliar = Rp1,1 juta
    • Total pajak: Rp2,1 juta

👉 Masalah: Dimas kadang ngerasa “kok kayak bayar pajak buat rugi?”, karena pemerintah hitung dari transaksi, bukan net profit.


🎬 Scene 2: Investor Jangka Panjang — “Mbak Clara yang HODL Bitcoin”

Clara (31 tahun) beli Bitcoin 2 BTC sejak 2018 harga Rp120 juta per BTC. Tahun 2025, harga BTC udah tembus Rp1,5 miliar per BTC. Clara simpan di Indodax, gak pernah jual.

Alur Pajak Clara

  • Selama HODL: Gak kena pajak karena belum ada transaksi.
  • Begitu Jual (misal 1 BTC):
    • Harga jual 1 BTC = Rp1,5 miliar
    • Potongan pajak:
      • PPh Final 0,1% = Rp1,5 juta
      • PPN 0,11% = Rp1,65 juta
      • Total pajak: Rp3,15 juta

👉 Insight: Buat investor jangka panjang kayak Clara, pajak cuma kena waktu jual. Jadi strategi hold lebih lama kadang lebih efisien pajak ketimbang trading harian.


🎬 Scene 3: Content Creator Kripto — “Ardi yang Dibayar Token ERC-20”

Ardi (24 tahun), YouTuber niche “Blockchain Design & NFT Review”. Brand luar negeri sponsor Ardi, bayar pake token ERC-20 setara $1.000/bulan.

Alur Pajak Ardi

  • Karena Ardi dapet penghasilan dalam bentuk kripto, menurut aturan DJP = penghasilan biasa, bukan transaksi jual beli.
  • Jadi Ardi harus catet nilai kurs saat terima (misalnya USDT ke Rupiah).
  • Pendapatan Ardi = Rp15 juta/bulan (kurs saat itu).
  • Masuk ke SPT Tahunan sebagai penghasilan pekerjaan bebas / content creator.
  • Tarif pajak ikut PPh Orang Pribadi (progressive 5%-35%).

👉 Dilema Ardi: Kurs kripto fluktuatif. Kalau terima token di Januari, tapi baru cairin Maret pas harga drop, tetap lapor pake kurs Januari. Jadi kadang terasa “pajak lebih gede dari uang yang beneran cair”.


🎬 Scene 4: Barista Side Hustle Kripto — “Nando yang Punya Kopi + Main Mining”

Nando (29 tahun) barista di Bandung, tapi punya side hustle mining Ethereum Classic (ETC) pake rig rakitan.

Alur Pajak Nando

  • Mining dianggap penghasilan tambahan (hasil usaha).
  • Setiap ETC yang masuk wallet dicatat sesuai kurs saat itu.
  • Biaya listrik + biaya perangkat bisa jadi biaya pengurang (deductible expenses).

💡 Simulasi:

  • Penghasilan mining: Rp60 juta/tahun
  • Biaya listrik & hardware: Rp20 juta
  • Penghasilan bersih = Rp40 juta
  • Pajak dihitung pake tarif progresif OP.

👉 Masalah: Banyak miner belum sadar harus lapor, karena ngerasa “cuma hobi”. Padahal DJP udah mulai tracking wallet bareng Bappebti & exchange lokal.


📊 Analisis & Tren 2025

  1. Transaksi makin padat: Karena makin banyak token niche (DeFi, NFT, gaming).
  2. Regulasi global: OECD dorong pajak kripto masuk ke BEPS 2.0 Pillar One & Two. Bisa jadi 2026 Indonesia ikut adaptasi.
  3. Potensi integrasi ke Coretax: DJP bisa auto-track transaksi dari exchange lokal → risiko “ngumpet” makin kecil.
  4. Tantangan utama: Gap edukasi. Banyak Gen Z investor kripto gak tau cara lapor SPT kalau penghasilan mereka berupa token.

🎯 Kesimpulan Deep Dive

  • Trader → Kena pajak tiap transaksi (ribet kalau volume gede).
  • Investor jangka panjang → Pajak ringan karena cuma kena waktu jual.
  • Content creator dibayar token → Harus hati-hati soal kurs waktu penerimaan.
  • Miner/side hustle → Bisa manfaatin biaya listrik/hardware buat ngurangin pajak.

👉 Intinya: Pajak kripto di Indonesia itu udah real dan makin ketat. Buat survive, bukan cuma ngerti candlestick, tapi juga canditax (candlestick versi pajak 😅).


Bro, lo mau gue bikinin versi 2000 kata full deep dive buat artikel ini (lengkap step-by-step simulasi + analisis regulasi global)? Atau cukup dulu versi storytelling case study yang gue drop ini, biar lebih gampang diposting?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top