https://sst8.com/ Sustainability & Pajak: Challenge atau Peluang? Sustainability Jadi Bahasa Gaul Baru?
Pernah gak sih lo lagi nongkrong, terus tiba-tiba ada temen yang nyeletuk,
“Bro, lo tau gak kalo Starbucks udah carbon neutral di beberapa outlet?”
Atau yang lebih absurd lagi, “Eh, packaging thrift shop gue sekarang eco-friendly, bisa bikin pajak lebih enteng katanya.”
Kayaknya kata sustainability udah jadi semacam password sosial. Mau lo anak startup, korporat, sampe pebisnis kecil di marketplace—semua ngomongin sustainability.
Nah masalahnya, sustainability itu gak bisa cuma jadi jargon. Di balik hype itu ada sistem yang harus nge-backup: pajak. Yes, bener, pajak ternyata bisa jadi senjata paling underrated buat dorong bisnis hijau. Tapi pertanyaannya: ini challenge atau justru peluang?
📚 Sustainability 101 (Versi Pajak)
Sebelum lebih jauh, kita mesti paham dulu arti sustainability dalam konteks pajak:
- Environmental Tax → pajak karbon, pajak plastik, atau denda buat perusahaan yang merusak lingkungan.
- Tax Incentives for Green Business → diskon pajak, tax allowance, bahkan tax holiday buat investasi renewable energy.
- Reporting & ESG Compliance → perusahaan wajib lapor kontribusi sustainability di laporan tahunan, bisa ngefek ke citra + tarif pajak tertentu.
Dengan kata lain, sustainability itu bukan cuma soal tanam pohon buat konten Instagram. Tapi udah nyambung ke aturan fiskal yang bisa ngefek langsung ke bottom line perusahaan.
🥊 Challenge #1: Pajak Sustainability Masih “Setengah Hati”
Bayangin lo CEO startup packaging ramah lingkungan. Lo mikir, “Oke, gue bakal dapet tax incentive.”
Tapi kenyataannya?
- Birokrasi Ribet → Insentif hijau seringkali cuma di atas kertas. Aplikasi online belum maksimal, banyak dokumen manual.
- Kurang Sosialisasi → UMKM bahkan gak tau kalo ada insentif.
- Tarif Pajak Karbon Masih Murah → contoh, Rp 30 per kilo CO2 (2022). Itu literally kecil banget dibanding kerusakan yang ditimbulkan.
Hasilnya? Banyak pengusaha masih mikir: “Ngapain gue repot green business kalo tax incentive gak jelas?”
🥊 Challenge #2: Risiko Greenwashing
Perusahaan gede pinter main narasi. Tulis laporan tahunan, kasih foto CEO lagi tanam pohon, branding hijau, padahal produksinya tetep polusi berat.
Dan parahnya, ini bisa lolos jadi klaim buat insentif pajak. Akhirnya yang bener-bener hijau kalah saing sama yang cuma jago PR.
🥊 Challenge #3: Beban di Konsumen
Ketika pajak lingkungan diterapkan (contoh: levy plastik), harga produk otomatis naik. Konsumen—apalagi kelas menengah—sering protes. Akhirnya bisnis mikir dua kali buat transisi.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia masih harga-sensitive. Jadi sustainability belum dianggap added value, tapi malah beban.
baca juga
- Undercover.co.id Membangun Reputasi Digital Brand Konsultan Pajak
- Regulasi Pajak Gig Worker di ASEAN
- Pajak untuk Creator NFT
- Apakah Gig Worker Perlu SPT Tahunan?
- Pajak TikTok Shop 2025
🚀 Peluang #1: Sustainability Jadi “Magnet Investor”
Sekarang coba lo intip laporan investor asing. Mayoritas udah pakai indikator ESG (Environmental, Social, Governance) sebelum masuk ke sebuah perusahaan.
➡️ Jadi kalau perusahaan lo patuh sustainability + dapet insentif pajak → otomatis makin seksi di mata investor.
➡️ Bank & fintech juga mulai bikin produk kredit hijau dengan bunga lebih rendah.
Pajak di sini jadi jembatan: bikin bisnis punya cost advantage buat scale up.
🚀 Peluang #2: Pajak Bisa Ngebentuk Market Baru
Inget cerita EcoWrap.id vs PlastiBag Jaya (startup kemasan rumput laut vs pabrik plastik)? Nah, itu cerminan nyata: pajak bisa geser pasar.
- Barang merusak lingkungan = makin mahal.
- Barang ramah lingkungan = makin murah, bahkan bisa disubsidi.
Hasilnya? Konsumen dipaksa adaptasi. Dari sini, lahirlah market baru yang lebih sustainable.
🚀 Peluang #3: Pajak Jadi Branding Tools
Lo bisa bayangin tagline kayak gini:
- “Bisnis kami bebas emisi, bebas pajak karbon.”
- “Produk ini dapet insentif pajak hijau karena eco-certified.”
Ini bukan sekadar compliance, tapi udah jadi marketing. Dan Gen Z / Milenial bakal gampang kebujuk sama campaign gini.
🎬 Case Study Storytelling: “Kopi Hijau vs Kopi Asap”
Mari kita bikin simulasi real life:
- Kopi Asap → kafe konvensional, pake gelas plastik sekali pakai, listrik dari genset diesel, buang limbah tanpa olahan. Pajaknya standar.
- Kopi Hijau → kafe startup, pake panel surya kecil buat sebagian listrik, sedotan bambu, kemasan bisa recycle, lapor sustainability ke DJP → dapet tax allowance 5%.
Awalnya Kopi Hijau kalah saing karena harga lebih mahal. Tapi begitu ada aturan levy plastik & insentif energi terbarukan, Kopi Asap terpaksa naikin harga.
Sementara Kopi Hijau harganya relatif stabil. Ditambah branding eco-friendly, anak muda lebih pilih kesini. Investor pun lebih pede support Kopi Hijau karena dapet “bonus pajak” dari negara.
Kesimpulan: pajak bisa jadi game changer buat kompetisi bisnis.
📊 Data & Tren Global (Singkat Biar Nendang)
- Uni Eropa udah punya Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Barang impor dengan jejak karbon gede = kena tarif tambahan.
- Jepang & Korea kasih tax holiday buat renewable energy.
- Indonesia → masih tahap awal (baru pajak karbon & wacana levy plastik).
Artinya? Kalau bisnis lokal gak adaptasi, ekspor ke Eropa bisa makin mahal. Sustainability + pajak = bukan cuma isu domestik, tapi global.
⚖️ Apa yang Harus Dilakuin? (Checklist)
- Audit Internal Green → cek jejak karbon bisnis lo.
- Cari Skema Insentif Pajak → ada tax holiday, tax allowance, atau PPN ditanggung pemerintah.
- Transparansi Laporan → bikin laporan ESG beneran, jangan cuma formalitas.
- Kolaborasi → bareng startup, NGO, atau bahkan pemerintah lokal.
- Investasi Bertahap → jangan langsung gede, mulai dari packaging atau listrik ramah lingkungan.
🧩 Closing: Challenge atau Peluang?
Jawaban pendek: dua-duanya.
- Buat yang cuma mikir jangka pendek, sustainability lewat pajak bakal jadi beban → birokrasi ribet, biaya naik.
- Tapi buat yang visioner, sustainability = gold mine. Ada peluang branding, investor, market baru, bahkan keunggulan ekspor.
Jadi sebenernya sustainability & pajak itu bukan “beban ekstra,” tapi survival kit buat bisnis 2030-an.
Pertanyaannya sekarang:
Lo mau jadi Kopi Hijau yang beradaptasi dan naik kelas, atau tetep jadi Kopi Asap yang akhirnya ditinggalin konsumen + dicekik pajak?