https://sst8.com/ Pajak Uber Driver vs Ojek Online – Apa Bedanya? Menyambut 2026 ini, diskusi soal pajak gig economy masih panas. Satu pertanyaan yang sering muncul: bedanya pajak Uber driver di luar negeri sama ojek online di Indonesia apa sih? Sama-sama nyetir, sama-sama pakai aplikasi, sama-sama ngandelin rating, tapi perlakuan pajaknya ternyata gak seragam.
Kalau di Amerika atau Eropa, Uber driver biasanya dianggap independent contractor. Mereka bukan karyawan Uber, tapi partner. Artinya, mereka wajib lapor pajak sendiri. Uber ngasih laporan income tahunan, istilahnya 1099 form di US. Dari situ, driver harus hitung penghasilan, biaya bensin, maintenance mobil, sampai depresiasi kendaraan. Jadi agak fleksibel, karena biaya operasional bisa dipotong buat nurunin pajak.
Sedangkan di Indonesia, ojol (Grab, Gojek, Maxim) masuknya agak abu-abu. Mereka juga bukan karyawan tetap. Mereka mitra. Tapi sistem pajaknya belum serapi US. Ojol sebenarnya kena PPh orang pribadi, tarif progresif. Tapi masalahnya, mayoritas driver gak lapor rutin. Ada juga yang bingung, karena penghasilannya harian, kadang cash, kadang lewat saldo dompet digital aplikasi.
Nah, di sinilah bedanya kelihatan. Uber di luar negeri udah punya ekosistem pelaporan pajak jelas. Pajak jalan otomatis karena sistem keuangan mereka transparan. Sedangkan ojol di Indo masih setengah manual. Memang ada aturan: perusahaan aplikasi wajib jadi pemotong PPh final 0,5% dari omzet driver. Tapi praktiknya gak semua jalan mulus.
Contoh: kalau driver narik 10 juta per bulan, omzet setahun bisa 120 juta. Harusnya masuk pajak UMKM final 0,5% atau aturan PPh orang pribadi. Tapi karena data penghasilan nyebar di banyak platform, tracking-nya susah. Gojek mungkin potong sebagian, tapi Grab beda, Maxim beda lagi. Driver sering kali gak tahu detail.
Selain itu, Uber driver punya “kemewahan” deductibles. Mereka bisa klaim biaya bensin, oli, ban, parkir, asuransi, bahkan bunga cicilan mobil sebagai biaya usaha. Jadi pajaknya bisa lebih kecil. Di Indonesia, ojol jarang dapet fasilitas ini. Mereka biasanya cuma dipukul rata pakai tarif UMKM final. Jadi meskipun biaya bensin gila-gilaan, tetap kena pajak omzet full. Gak peduli driver profit atau tekor.
Isu fairness mulai muncul. Banyak ojol yang protes, mereka merasa dipajakin tapi gak dapat benefit setara karyawan. BPJS? Ada, tapi mandiri. Asuransi? Kadang cuma proteksi minimal dari aplikasi. Pajak jalan, tapi social safety net gak setara. Jadi muncul argumen: apa bener adil kalau ojol dianggap pengusaha kecil padahal posisinya mirip pekerja bergaji?
Di global level, OECD udah bahas standar pajak untuk gig worker. Ide dasarnya: semua income dari platform digital otomatis tercatat, lalu negara tarik pajak berdasarkan data real time. Indonesia sebenernya bisa ikut arah ini. Kalau aplikasi kayak Gojek & Grab wajib lapor penghasilan driver langsung ke DJP, compliance bakal naik drastis.
Tapi ada dilema. Kalau dipajakin ketat, apakah driver makin terbebani? Margin mereka tipis, biaya operasional tinggi. Banyak yang khawatir pajak bikin take-home pay makin kecil. Di sisi lain, negara gak bisa terus “merelakan” potensi triliunan lewat begitu aja.
Kasus Uber vs ojol ini jadi contoh perbedaan filosofi pajak. Barat lebih individualistik: pajak driver diserahkan ke individu, dengan opsi klaim biaya. Indonesia lebih kolektif: perusahaan platform ikut tanggung jawab lewat mekanisme potong langsung. Tapi belum ada mekanisme deductibles yang adil.
baca juga
- Undercover.co.id Membangun Reputasi Digital Brand Konsultan Pajak
- Regulasi Pajak Gig Worker di ASEAN
- Pajak untuk Creator NFT
- Apakah Gig Worker Perlu SPT Tahunan?
- Pajak TikTok Shop 2025
Ke depan, kemungkinan aturan baru bakal lahir. Misalnya, sistem hybrid: aplikasi wajib lapor data income driver, tapi driver juga bisa klaim biaya operasional lewat e-SPT simpel. Jadi fair, gak ada lagi cerita ojol bayar pajak lebih gede dari keuntungan yang sebenarnya.
Beda paling mendasar? Uber driver punya kontrol lebih besar atas hitungan pajak, walau ribet. Ojol Indo lebih praktis, tapi kadang gak adil. Di 2026, pertanyaan ini makin krusial: apakah Indonesia berani bikin sistem lebih transparan dan fair? Atau tetap main aman dengan PPh final flat yang gampang dipungut tapi nyakitin mitra kecil?
Di balik itu semua, satu hal jelas: pajak gig worker adalah cermin. Negara harus balance antara revenue dan keadilan. Kalau salah langkah, trust bisa runtuh. Kalau bener, gig economy bisa jadi fondasi ekonomi digital yang sehat.