sst8.com/ Freelance Designer di Upwork Kena Pajak ? menyambut 2026 ini, kerja remote udah jadi normal baru. Banyak anak muda Indo gak lagi ngandelin kantor, tapi hidup dari proyek freelance. Desainer grafis, UI/UX, motion, sampai ilustrator. Dan platform kayak Upwork, Fiverr, Toptal jadi ladang uang. Tapi pertanyaan lama gak pernah selesai: kalau lo freelance di Upwork, duitnya masuk dolar, lo tetap wajib bayar pajak ke Indonesia?
Jawabannya simpel tapi bikin pusing. Iya, lo tetap wajib. Kenapa? Karena sistem pajak di Indonesia pakai asas worldwide income. Artinya, semua penghasilan yang lo dapet, entah dari klien Indo atau luar negeri, tetap kena pajak di sini. Lo bisa kerja untuk klien dari New York, Berlin, atau Tokyo, tapi kalau KTP lo Indonesia, NPWP lo aktif, ya lo harus lapor ke DJP.
Masalahnya, praktiknya gak sesimpel itu. Upwork biasanya bayar lewat Payoneer, PayPal, atau transfer bank. Duitnya nongol di rekening Indo dalam bentuk rupiah. Kalau via e-wallet luar, malah lebih ribet tracking-nya. Banyak freelancer yang nganggep, “lah, ini kan duit dari luar negeri, masa kena pajak Indo juga?” Nah, di situlah sering salah paham.
Regulasi bilang jelas. UU Pajak Penghasilan pasca omnibus law udah mantap: semua penghasilan, dari mana pun sumbernya, masuk objek pajak. Jadi kalau desainer dapet $2000 sebulan dari klien via Upwork, ya konversinya ke rupiah (kurs pajak resmi BI), lalu masuk hitungan penghasilan tahunan.
Terus gimana teknisnya? Lo bisa pilih dua jalur. Kalau masih UMKM (omzet setahun di bawah 500 juta), lo bisa pake PPh Final UMKM 0,5% dari omzet. Gampang, tinggal kali omzet, bayar. Tapi kalau omzet gede, atau lo udah mau lebih proper, bisa masuk skema normal: pakai tarif progresif PPh orang pribadi, plus bisa klaim biaya.
Nah, di sini bedanya terasa. Freelancer di US atau Eropa biasanya udah disiplin bikin laporan income. Mereka bisa klaim biaya software (Adobe, Figma, Canva Pro), internet, listrik, bahkan kursus online sebagai deductibles. Jadi pajaknya bisa lebih ringan. Di Indo, opsi ini ada juga, tapi jarang dipakai karena ribet. Banyak freelancer milih jalan gampang: bayar 0,5% final, tanpa repot catat biaya.
Lalu ada isu double taxation. Kalau klien di luar negeri minta lo isi tax form, misalnya W-8BEN untuk US, lo bisa claim bahwa lo bukan wajib pajak US. Jadi gak kena potong di sana. Tapi kalau gak isi, bisa kena withholding tax. Nah, perjanjian pajak antar negara (DTA – Double Tax Avoidance Agreement) bakal main di sini. Indonesia punya DTA dengan banyak negara, jadi lo bisa hindari pajak dobel kalau paham aturannya.
baca juga
- Undercover.co.id Membangun Reputasi Digital Brand Konsultan Pajak
- Regulasi Pajak Gig Worker di ASEAN
- Pajak untuk Creator NFT
- Apakah Gig Worker Perlu SPT Tahunan?
- Pajak TikTok Shop 2025
Tapi kenyataan di lapangan, mayoritas freelancer Indo masih main kucing-kucingan. Banyak yang simpen income di Payoneer, baru tarik secukupnya ke rekening. Ada yang muter lewat crypto biar gak kelihatan. Ada juga yang percaya diri, “DJP gak bakal tahu kok.” Padahal, tren global udah jelas: transparansi finansial makin ketat. Bank ikut CRS (Common Reporting Standard), e-wallet luar negeri bisa lapor data ke otoritas pajak. Jadi sembunyi lama-lama bakal riskan.
Pertanyaannya, apakah fair? Freelancer ngerasa, mereka kerja keras sendiri, tanpa perlindungan negara, tanpa jaminan. Pajak tetap nagih. Tapi di sisi lain, kalau sistem makin transparan, negara dapet revenue gede. Bayangin, ribuan freelancer Indo di Upwork dengan omzet ribuan dolar per bulan, itu potensi triliunan pajak.
DJP udah mulai sadar. Tahun 2025, ada wacana bikin e-form khusus untuk pekerja digital. Jadi freelancer bisa lapor lebih simpel. Bahkan ada obrolan soal integrasi data dengan platform kayak Upwork. Kalau bener kejadian, penghasilan lo otomatis tercatat. Gak bisa ngumpet lagi.
Masa depan pajak freelancer di Indonesia mungkin bakal mirip kayak pajak gig worker ojol: transparansi total lewat platform. Bedanya, freelancer di Upwork punya exposure global. Jadi kalau gak lapor di Indo, bisa kedeteksi lewat kerjasama pajak internasional.
Jadi balik ke pertanyaan: freelance designer di Upwork wajib pajak Indo? Jawaban resminya: iya. Kalau lo masih pengen aman jangka panjang, sebaiknya mulai rapihin. Catat income, simpan invoice, bayar PPh sesuai skema. Karena lebih baik ribet dikit sekarang daripada kena pemeriksaan nanti.
Dan kalau mau lebih ideal, dorongan ke pemerintah juga perlu: bikin sistem pajak yang fair. Jangan cuma narik, tapi kasih akses ke BPJS lebih fleksibel, insentif kursus digital, atau potongan pajak untuk tools kerja. Baru deh freelancer gak ngerasa cuma jadi sapi perah negara.
Kasus ini menarik karena nunjukkin benturan dua dunia: ekonomi digital borderless lawan sistem pajak nasional yang masih kaku. Desainer di Upwork bisa dapet klien dari lima benua dalam sehari, tapi tetap gak bisa lari dari fakta: NPWP lo ada di Indonesia.