sst8.com/ Apa Itu Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN)? Buat lo yang mungkin baru denger tentang NPPN (Norma Penghitungan Penghasilan Neto), gue bakal jelasin dengan cara yang gampang banget dimengerti. Jadi, NPPN itu adalah cara buat hitung penghasilan neto wajib pajak orang pribadi yang lagi jalanin usaha atau pekerjaan bebas. Ya, lo yang punya usaha kecil, jadi freelancer, atau profesi lainnya, harus tahu nih tentang metode ini.
Nah, di metode ini, penghasilan neto lo dihitung dengan cara ngalikan persentase norma tertentu yang udah ditentukan sama penghasilan bruto lo. Jadi, gak perlu ribet bikin pembukuan atau laporan keuangan yang detail, lo bisa pakai NPPN buat nyederhanain perhitungan pajaknya. Enak kan?
Kenapa NPPN Itu Bermanfaat?
NPPN ini banyak dipakai sama wajib pajak yang mungkin gak punya waktu atau kemampuan buat melakukan pembukuan lengkap. Misalnya, lo gak punya dokumen keuangan yang memadai atau usaha lo masih kecil, NPPN bisa jadi pilihan yang tepat. Jadi, tujuan utamanya sih supaya perhitungan penghasilan neto lo bisa lebih praktis dan lo tetap bisa bayar PPh (Pajak Penghasilan) yang sesuai.
Dasar Hukum dan Regulasi Terbaru NPPN
Ngomongin soal hukum, NPPN ini ada aturan pastinya yang ngatur di Indonesia. Di bawah ini adalah beberapa dasar hukum yang relevan:
- Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER – 17/PJ/2015: Ini mengatur lebih lanjut soal NPPN berdasarkan sektor dan jenis usaha lo.
- Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yang udah ngatur dasar buat penghitungan pajak termasuk NPPN.
- Peraturan Menteri Keuangan No. 54/PMK.03/2021: Ini ngatur lebih detil soal Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
- Peraturan Menteri Keuangan No. 81 Tahun 2024: Peraturan terbaru ini nentuin syarat-syarat yang lebih spesifik buat penggunaan NPPN.
Jadi, lo udah punya banyak dasar hukum buat pake metode ini. Penting banget, kan, buat selalu paham aturan yang ada!
Syarat Menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto
Oke, jadi siapa aja sih yang bisa pake NPPN? Lo harus penuhi beberapa syarat supaya bisa pake metode ini. Menurut PMK No. 81/2024, lo harus memenuhi kriteria ini:
- Lo wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
- Penghasilan bruto lo selama setahun gak boleh lebih dari Rp4,8 miliar.
- Lo harus lapor ke DJP (Direktorat Jenderal Pajak) buat pake NPPN, dan laporan itu harus diajukan paling lambat 3 bulan pertama di Tahun Pajak.
- Kalau lo baru terdaftar di Tahun Pajak yang bersangkutan, pemberitahuannya harus paling lambat 3 bulan setelah terdaftar atau pada akhir tahun pajak.
Cara Pengajuan Penggunaan NPPN ke DJP:
- Bisa lewat online di www.pajak.go.id, pakai Contact Center DJP, atau saluran tertentu lainnya.
- Lo juga bisa langsung datang ke KPP (Kantor Pelayanan Pajak) tempat lo terdaftar.
- Kirim lewat pos dengan bukti pengiriman surat.
- Bisa juga pake jasa ekspedisi atau kurir dengan bukti pengiriman surat.
Pokoknya, gampang banget deh buat ngajuin. Tinggal pilih cara yang lo paling nyaman!
Contoh Kasus yang Gak Boleh Pakai NPPN
Tapi, gak semua orang bisa pake NPPN nih. Ada beberapa situasi di mana lo gak bisa pake NPPN:
- Lo dianggap pilih pembukuan: Kalau lo gak kasih tau ke DJP dan gak nyatakan mau pake NPPN, maka lo dianggap milih pembukuan. Ini artinya, penghitungan pajak lo bakal lebih ribet dan bisa dianggap gak bener.
- Lo punya beberapa usaha: Misalnya lo punya lebih dari satu usaha atau pekerjaan bebas, penghasilan dari setiap usaha itu harus dihitung terpisah. Lo gak bisa gabungin semuanya langsung, jadi lo harus hitung setiap penghasilan neto per usaha, terus dijumlahin.
baca juga
- Undercover.co.id Membangun Reputasi Digital Brand Konsultan Pajak
- Regulasi Pajak Gig Worker di ASEAN
- Pajak untuk Creator NFT
- Apakah Gig Worker Perlu SPT Tahunan?
- Pajak TikTok Shop 2025
Tahapan Proses Perhitungan NPPN
Sekarang, kita bahas soal proses perhitungan NPPN yang harus dilakukan oleh wajib pajak. Gak ribet kok! Simak ya:
- Identifikasi sektor dan lokasi usaha lo: Soalnya, setiap sektor dan lokasi punya persentase norma yang beda. Cek dulu deh!
- Hitung penghasilan bruto lo selama setahun.
- Kalikan penghasilan bruto lo dengan persentase norma yang berlaku, yang udah ditentukan buat sektor dan lokasi usaha lo.
- Setelah dapet hasilnya, lo tinggal laporin penghasilan neto lo di SPT Tahunan. Gampang kan?
Rumus Penghitungan NPPN:
Jadi, rumusnya gampang banget:
Penghasilan Neto = Penghasilan Bruto x Tarif Persentase NPPN
Contoh Cara Menghitung NPPN:
Misalnya, Tuan A punya usaha pedagang besar cat dan penghasilannya Rp3,5 miliar setahun. Tuan A berstatus menikah dengan 1 anak. Untuk tahu pajak yang kena, dia harus hitung penghasilan netonya pake NPPN. Berikut langkah-langkahnya:
- Penghasilan bruto Tuan A: Rp3,5 miliar.
- Persentase NPPN untuk usaha Tuan A (misalnya, 10%).
- Penghasilan Neto = Rp3,5 miliar x 10% = Rp350 juta.
Setelah itu, baru deh, penghasilan neto tersebut dipakai buat hitung PPh yang terutang.
Kesimpulan
Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) itu metode yang sangat praktis buat ngitung penghasilan neto, terutama buat yang gak punya pembukuan lengkap. Lo cukup hitung penghasilan bruto, kalikan dengan persentase norma yang berlaku, dan voila, penghasilan neto lo udah siap dihitung PPh-nya. Kalau lo wajib pajak orang pribadi dengan penghasilan bruto di bawah Rp4,8 miliar, NPPN jadi pilihan yang tepat buat lo! Jangan lupa, selalu laporkan penggunaannya ke DJP dan pastikan lo paham aturan yang ada.