Pajak dalam M&A (Merger & Acquisition)

sst8.com/ Pajak dalam M&A (Merger & Acquisition) di Indonesia , “M&A Itu Bukan Cuma Drama Bisnis, Tapi Juga Drama Pajak”

Lo pernah liat berita startup unicorn Indo di-merge sama korporasi gede, atau perusahaan keluarga diakuisisi investor asing? Dari luar keliatan kayak “business love story” 💍, tapi di belakang layar ada satu pihak yang selalu nongol: DJP (Direktorat Jenderal Pajak).

Yes, setiap merger & acquisition (M&A) di Indonesia tuh bukan cuma soal valuasi, saham, atau due diligence bisnis—tapi juga strategi perpajakan. Salah langkah dikit, bisa bikin transaksi batal, cuan ilang, atau malah kena denda.


📌 Pajak yang Sering Muncul di Transaksi M&A

Dalam M&A, ada beberapa layer pajak yang kudu dipahami.

1. Pajak Pengalihan Saham

  • Tarif Pajak: 0,1% dari nilai bruto transaksi (PPh final).
  • Kalau dijual ke bursa efek → dipotong broker.
  • Kalau jual beli off-market (misalnya akuisisi private company) → wajib setor sendiri.

Story Mode:
Investor asing beli 80% saham PT IndoKeren seharga Rp1 triliun.
➡️ Wajib setor Rp1 miliar ke negara (0,1%).
➡️ Kalau lupa? Bisa ditolak proses legalnya, karena notaris gak bisa lanjut tanpa bukti setor pajak.


2. Pajak Dividen & Buyback

  • Kalau akuisisi dilakukan lewat mekanisme pembagian dividen khusus, tetep kena PPh final 10%.
  • Kalau perusahaan melakukan buyback saham, potensi kena PPh 0,5% dari nilai pembelian saham.

3. Pajak Pengalihan Aset (Asset Deal)

Kadang M&A gak langsung beli saham, tapi beli aset (tanah, bangunan, mesin, intellectual property).

  • PPh Final atas Tanah/Bangunan: 2,5% dari nilai transaksi.
  • BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan): 5%.
  • PPN Aset: 11% (kalau asetnya kena PPN).

Story Mode:
PT Global Jaya beli pabrik + lahan dari PT Lokal Abadi Rp200 miliar.
➡️ PPh Final tanah/bangunan Rp5 miliar.
➡️ BPHTB Rp10 miliar.
➡️ Kalau ada PPN, tambah Rp22 miliar.
Total pajak = bisa nyampe 20% lebih dari harga transaksi!

baca juga


4. Pajak PPh Badan (Akibat Restrukturisasi)

Kalau merger → ada potensi tax loss carry forward (kerugian fiskal bisa dipindahin). Tapi DJP sering awas, takutnya perusahaan akal-akalan buat ngurangin pajak.


5. Pajak Lain yang Nyempil

  • PPh 23 kalau ada jasa konsultan M&A.
  • PPh 26 kalau transaksinya dengan investor asing.
  • Withholding tax buat pembayaran bunga pinjaman kalau akuisisi dibiayai utang (leveraged buyout).

⚖️ Regulasi & Izin Pajak di M&A

Di Indo, merger & akuisisi gak bisa asal jalan. Ada dua izin penting:

  1. Persetujuan OJK & KPPU → buat pastiin gak ada monopoli.
  2. Persetujuan DJP (Tax Clearance) → wajib kalau M&A dilakukan untuk restrukturisasi dan minta fasilitas pembebasan pajak.

👉 Aturan detailnya ada di PMK 52/2021 dan UU HPP.


🚨 Drama Pajak dalam Kasus Nyata

  1. Kasus Bank Merger BUMN (2020)
    Waktu BRI, BNI, Mandiri gabungin anak usahanya ke BRI Syariah (jadi Bank Syariah Indonesia), prosesnya ribet banget karena aset yang dipindahin triliunan rupiah.
    → Untungnya dapet fasilitas bebas pajak dari pemerintah biar gak jebol.
  2. Startup vs Pajak
    Ada startup Indo yang di-acquire investor asing, tapi karena due diligence nemu ada pajak terutang (utang PPN + PPh Badan), deal hampir batal.
    → Lesson learned: pajak bisa jadi “deal breaker” dalam M&A.

🧭 Strategi Tax Planning dalam M&A

Biar gak kejebak, biasanya perusahaan pake konsultan pajak kelas atas (EY, Deloitte, PwC, Provisio Consulting dll). Beberapa trik yang sering dipake:

  1. Gunakan Skema Merger Bebas Pajak (Tax Neutral Merger)
    Kalau tujuannya restrukturisasi bisnis, bisa ajukan fasilitas bebas PPh, PPN, dan BPHTB.
  2. Gunakan SPV (Special Purpose Vehicle)
    Investor asing sering bikin perusahaan perantara di Singapura/Belanda buat dapet tarif pajak lebih rendah (thanks to tax treaty).
  3. Due Diligence Pajak
    Audit pajak sebelum deal wajib, biar gak ketiban “bom waktu” pajak dari perusahaan target.
  4. Transfer Pricing Strategy
    Kalau ada perusahaan grup multinasional, transaksi bisa diatur supaya efisien pajak tapi tetep comply.

🔮 Tren Pajak M&A 2025 ke Depan

  • Coretax DJP bikin proses due diligence makin transparan. Semua data pajak target company bisa dicek digital.
  • Anti Tax Avoidance Rule makin ketat. Skema lewat offshore SPV (kayak Singapura) makin diawasi.
  • Green Economy M&A bisa dapet insentif, misalnya kalau akuisisi perusahaan energi terbarukan.
  • Foreign Investor Checkpoint: Pemerintah lebih ketat ngawasin kalau ada investor asing masuk lewat M&A.

🎯 Kesimpulan

M&A di Indonesia itu medan tempur bisnis + pajak.

  • Ada pajak saham, aset, dividen, sampai PPN nyempil.
  • Bisa bikin transaksi lebih mahal 10–20% kalau gak diatur bener.
  • Tapi kalau pake strategi & fasilitas yang tepat, banyak pajak bisa ditekan bahkan dibebasin.

💡 Bottom line:
M&A itu bukan cuma soal “siapa akuisisi siapa,” tapi juga soal “siapa yang bayar pajak, siapa yang dapet insentif.”


Mau gue lanjut bikinin artikel “Fasilitas Pajak dalam Merger: Kapan Bisa Bebas Pajak 100% di Indonesia?” biar deep dive banget ke strategi legal tax saving?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top