Tax Saving vs Tax Avoidance: Mana yang Aman?

sst8.com/ Tax Saving vs Tax Avoidance: Mana yang Aman , Pajak Itu Kayak Main Game

Bayar pajak itu mirip kayak main game strategi.
Lo bisa main fair play → ikutin aturan, manfaatin semua fitur.
Atau lo bisa main cheat code → nyari loophole, kadang works, tapi kalau ketahuan… auto-banned. 🚫🎮

Nah, dalam dunia pajak, cheat code ini ada dua istilah yang sering bikin bingung:

  • Tax Saving
  • Tax Avoidance

Sekilas mirip, tapi vibe-nya beda banget. Let’s break it down.


💡 Apa Itu Tax Saving?

Tax Saving = penghematan pajak yang legal, sesuai aturan.

Lo manfaatin fasilitas yang emang dikasih pemerintah, contoh:

  • Pakai insentif pajak kayak tax holiday, super deduction tax, tax allowance.
  • Atur keuangan biar efisien → misalnya manfaatin rugi fiskal buat kurangi pajak tahun berikutnya.
  • Pilih metode penyusutan aset yang bikin beban pajak lebih kecil di awal.

📌 Analoginya: kayak lo pake promo GoFood, diskon official dari aplikasinya. Legal, aman, malah dianjurkan.

Contoh nyata:
Startup teknologi di Indo rajin invest R&D. Mereka klaim super deduction tax → pajak badan jadi lebih kecil.
➡️ Ini sah, malah pemerintah happy karena perusahaan support inovasi.


⚠️ Apa Itu Tax Avoidance?

Tax Avoidance = usaha mengurangi pajak dengan cara eksploitasi celah hukum.
Masih technically legal, tapi abu-abu.

Contoh taktiknya:

  • Transfer pricing ke negara dengan tarif pajak rendah.
  • Pindahin laba ke “tax haven countries” biar pajaknya minimalis.
  • Bikin struktur holding ribet biar penghasilan ngalir lewat negara dengan perjanjian pajak yang lebih ringan.

📌 Analogi: kayak lo order makanan lewat aplikasi negara lain biar pajaknya lebih kecil. Gak dilarang secara langsung, tapi jelas aplikasinya bakal nyorot lo.

Real case:
Beberapa perusahaan global di Indo ke-gap “memindahkan” laba ke Singapura lewat biaya royalti/layanan manajemen.
➡️ Secara aturan mereka main di area abu-abu.
➡️ Tapi begitu DJP audit → dibilang menggerus pajak Indo.


🟥 Beda Utama Tax Saving vs Tax Avoidance

AspekTax SavingTax Avoidance
Legalitas100% sah, diatur dalam UU & PMKAbu-abu, memanfaatkan loophole
RisikoMinim, asal dokumentasi rapiTinggi, rawan audit & koreksi
ContohInsentif pajak, kompensasi rugi, metode penyusutanTransfer pricing ke tax haven, treaty shopping
ImagePositif, dianggap complianceNegatif, bisa dicap “ngemplang pajak terselubung”

🚨 Risiko Tax Avoidance

Buat perusahaan gede, tax avoidance itu kayak main api 🔥.

  • Bisa kena General Anti Avoidance Rule (GAAR) → DJP berhak ngebatalin transaksi yang dianggap cuma buat ngurangin pajak.
  • Reputasi hancur → brand lo bisa dicap “ngemplang pajak”, trust publik drop.
  • Kasus pajak panjang → biaya hukum, audit, bahkan denda.

Contoh real:
Kasus pajak perusahaan tambang & tech global di Indo pernah bikin heboh.
Awalnya mereka bilang “ini masih legal, kok.”
Tapi begitu DJP & publik ngegas → reputasi jadi taruhan.

baca juga


✅ Jadi, Mana yang Aman?

Jawabannya jelas:
👉 Tax Saving = aman, disarankan, malah harus dimaksimalkan.
👉 Tax Avoidance = keliatan cerdas, tapi high risk.

Buat perusahaan yang pengen sustain jangka panjang → tax saving itu jalan ninja terbaik.
Karena pemerintah makin proaktif, pakai Coretax System, AI audit, dan data global (OECD CRS, BEPS Action Plan).
So, era tax avoidance makin sempit.


🎯 Kesimpulan

  • Tax Saving itu kayak strategi main game sah, pake fitur resmi → bikin hemat, bikin happy, no masalah.
  • Tax Avoidance itu kayak cheat → kadang berhasil, tapi kalau ketahuan, habis sudah.

🚀 Moral of the story:
Kalau mau hemat pajak, mainlah di jalur saving, bukan avoidance.
Karena yang legal & strategis itu lebih sustain daripada cari celah abu-abu yang ujungnya bikin kebakar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top